Semanu Gelar Rasulan Pentaskan Sendra Tari Ramayana

Sunday , 15, September 2019 Comments Off on Semanu Gelar Rasulan Pentaskan Sendra Tari Ramayana

Semanu Gelar Rasulan Pentaskan Sendra Tari Ramayana – Lima padukuhan di Desa Candirejo, Kecamatan Semanu secara serentak menggelar tradisi Rasulan. Kelima padukuhan tersebut ialah; Cuwelo Kidul, Gebang, Soka, Pace, Kropak dan Mranggen, serta satu perkumpulan perantau asal Cuwelo dan sekitarnya ikut berpartisipasi menyemarakkan tradisi tahunan tersebut.

Disampaikan Dukuh Padukuhan Cuwelo Kidul, Sunaryo, dibalik hingar bingar hiburan event besar itu terselip makna yang cukup penting bagi warga Cuwelo dan sekitarnya. Pada prosesi kirab yang dilaksanakan Jumat siang (9/10/2015), iringan bregodo terdepan menjadi pembawa gunungan utama, simbol pemersatu warga.

Selain gunungan yang dibawa iringan rombongan dari Cuwelo Kidul, Gebang, Soka, Pace, Kropak dan Mranggen, serta satu rombongan PPC, terdapat satu rombongan terdepan dari pemangku budaya dan bregodo prajurit kademangan Cuwelo yang membawa gunungan berbentuk rumah.

Semanu Gelar Rasulan Pentaskan Sendra Tari Ramayana  Semanu Gelar Rasulan Pentaskan Sendra Tari Ramayana

 

Kemeriahan Rasulan Semanu, Gunungkidul

Kemeriahan banyak sekali hiburan telah dimulai semenjak Kamis siang dan berakhir hingga Jum�at. Hiburan pendukung kemeriahan yang digelar mencakup pertandingan sepak bola, wayang kulit, campur sari Sangkuriang dengan bintang tamu Dimas Tedjo dan Yati Pesek, Uyon-uyon, Reog, Jathil, dan Kirab budaya serta sendratari Ramayana yang digelar pada salah satu padukuhan.

Sendra tari Ramayana pertama kalinya digelar oleh Padukuhan Pace di suatu daerah bekas ritual Nyadran pada zaman dahulu, suatu daerah di mana masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar (Resan) dan selalu rimbun meski kemarau panjang.

Semanu Gelar Rasulan Pentaskan Sendra Tari Ramayana  Semanu Gelar Rasulan Pentaskan Sendra Tari Ramayana

Dahulu ditempat tersebut dikala menjelang Rasulan dipakai untuk Nyadran/ Ngalap berkah, sehabis berhenti sudah agak lama, sekarang dirubah kemasannya, kali ini pertama kali dipakai untuk pementasan kesenian Sendra Tari Ramayana, sekaligus kenduri atau doa bersama, seluruh masakan kita niatkan sebagai sajian makan bersama.

Kalau dahulu mungkin pelaksanaan tradisi Nyadran di tempat-tempat pohon besar dikaitkan dengan hal gaib, menakutkan dan mistis, namun dikala ini dikemas berbeda, kesenian Wayang Orang yang pernah ada dirintis lagi.

Seluruh pemain beserta pengiring musik berasal dari warga setempat, instruktur sebagian berasal dari �sesepuh mantan pemain kesenian Wayang Orang, meski cuaca sedang terik namun program digelar tanpa penggunaan perangkat peneduh tenda, alasannya yaitu pohon-pohon besar berusia ratusan tahun bisa memperlihatkan kenyamanan dari panas terik bahkan memperlihatkan hawa sejuk.

Ada pohon Kepuh, Wadang, Klampok dan lainnya, selain sebagai eksplorasi kesenian yang sudah ditinggalkan, ini bernilai edukasi bahwa kita mengajak generasi penerus, ke depan untuk menyayangi alam lingkungan, serta menyayangi budaya.