Tradisi Masarakat Jawa Pada Malam Satu Syuro

Wednesday , 11, September 2019 Comments Off on Tradisi Masarakat Jawa Pada Malam Satu Syuro

Kedatangan tahun gres biasanya ditandai dengan aneka macam kemeriahan, ibarat pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun aneka macam arak-arakan di malam pergantian tahun.

Lain halnya dengan pergantian tahun gres Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan aneka macam ritual sebagai bentuk introspeksi diri. Hal ini yang bekaitan erat dengan masarakat jawa. Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melaksanakan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk).

Kedatangan tahun gres biasanya ditandai dengan aneka macam kemeriahan Tradisi Masarakat Jawa Pada Malam Satu Syuro

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang sempurna untuk melaksanakan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.

Pada malam pergantian tahun gres islam keraton jogjakarta dan kraton solo sebgai sentra kegaitan kebudayaan masarakat jawa dari dua kraton ini mempunyai tradisi sendiri sendiri. di kerataon jogjakarta pada malam suro mengarak pusaka mengelilingi benteng keraton jogjakarta. sedangkan di keraton solo dengan budaya pengarakan kebo bule dan di iringi dengan pusaka keraton.

Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut pedoman iktikad Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun gres Jawa dengan tirakatan atau selamatan. sebagian masarakat jawa pada malam satu suru� juga melaksanakan ritual pembersihan pusaka dengan air bunga.

Pada malam satu suro di anggap oleh sebagian masarakat hari yang� sangat sakaral sehingga pada hari itu masarakat tidak berani melaksanakan kegaiatan atau program seperti, panen padi , hajatan. namun pada masarakat gedangsari satu suro yaitu hal yang biasa ibarat hari laianya. malam satu suro tidak ada kegiatn apapun.